Bandar Casino - SBY, antara Dinasti dan Eksistensi Melawan Ahok
Bandar Casino - SBY, antara Dinasti dan Eksistensi Melawan Ahok
Liga855.com -- Pemilihan kepala daerah 2017 menjadi ajang pertarungan para elite politik, terutama dalam memperebutkan kekuasaan di DKI Jakarta. Tokoh-tokoh nasional sekaliber mantan Presiden Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono ikut berupaya keras memenangkan calon-calon yang dijagokan agar bisa menduduki kursi DKI-1.
Di atas kertas, calon yang diusung PDIP, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat, juga jauh lebih unggul dibandingkan nama-nama bakal calon lain yang mencuat saat ini. Sebut saja Sandiaga Uno, Yusril Ihza Mahendra, Rizal Ramli, Anies Baswedan hingga Agus Harimurti Yudhoyono. Popularitas dan elektabilitas mereka jelas jauh di bawah Ahok.
Untuk dapat mengusung calon, SBY menggalang kekuatan dengan partai-partai politik lain. Dengan menggandeng tiga partai yaitu Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Kebangkitan Bangsa, SBY yang memimpin gerbong empat partai secara khusus menggelar pertemuan di kediamannya di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, sebagai upaya untuk mencari lawan tanding Ahok.
Selain menggelar safari politik keliling Jawa untuk menghadapi pilkada serentak tahun depan, dalam beberapa kesempatan SBY juga melontarkan pernyataan yang kontra terhadap kepemimpinan Ahok.
Keterlibatan aktif SBY dalam pertarungan pilkada Jakarta tak bisa dilepaskan dari posisinya sebagai ketua umum partai sekaligus ketua majelis tinggi. Bahkan SBY juga ikut merangkap sebagai juru bicara partai setelah mengambil alih dari Ruhut Sitompul.
Peran SBY begitu dominan, termasuk dalam pertarungan pilkada Jakarta, menurut pengamat politik dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Vidhyandika D. Perkasa, juga menunjukkan eksistensi SBY dalam percaturan politik yang prestise.
Lebih dari itu, kata Ketua Departemen Politik dan Hubungan International CSIS itu, SBY ingin tetap meneruskan dinasti politik kekuasaannya melalui anak-anaknya. Kesan politik dinasti adalah lumrah sejauh memiliki kapasitas dan kapabilitas.
Begitu pun dengan kemunculan nama putra SBY, Agus Harimurti Yudhoyono, saat ini. Namun Agus masih harus membuktikan segala kemampuannya karena tak cukup hanya faktor keturunan tokoh nasional dan juga prestasi cemerlangnya di bidang militer.
Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Ramadhan Pohan menyebut, munculnya nama Agus Harimurti sebagai salah satu bakal calon pemimpin Jakarta bukan berasal dari keinginan pribadi SBY.
“Banyak yang usul begitu Pak SBY. Baik kader, internal maupun kalangan luar. Pak SBY mencermati semua. Agus memang mutiara dan selalu menonjol dalam pendidikan militer baik domestik maupun internasional,” kata Ramadhan.
Terjunnya SBY secara langsung dalam menggerakkan langkah politik pilkada Jakarta, bagi Ramadhan karena Jakarta sebagai barometer politik nasional.
Sekarang, tinggal seberapa kuat SBY mampu menunjukkan pengaruhnya sebagai eksistensi sekaligus untuk melanjutkan generasi penerusnya, salah satunya melalui Agus Harimurti. Persoalannya kini, apakah sudah saatnya sang putra mahkota tampil di pentas politik atau belum? Ini yang masih belum terjawab.
Posted by

Tidak ada komentar: