Mencoba Demo Outlast 2: Mimpi Terburuk!
Mencoba Demo Outlast 2: Mimpi Terburuk!
Liga855.com - Outlast adalah salah satu franchise “baru” game horror yang bisa terbilang sukses. Ia meminjam konsep game horror yang sebenarnya tak bisa dibilang original, sesuatu yang sudah dijadikan oleh game seperti Slenderman dan Amnesia sebagai daya tarik. Sebuah game horror dimana Anda berperan sebagai karakter utama yang tak bisa melawan dan harus bersembunyi dari semua ancaman yang ada. Walaupun demikian, dibandingkan dengan dua game tersebut, Red Barrels berhasil mengeksekusi banyak hal lainnya dengan lebih sempurna. Atmosfer, mekanik gameplay unik, tata suara unik, hingga konten penuh darah dan mutilasi yang tak menahan diri sama sekali. Hanya dalam waktu singkat, Outlast tumbuh menjadi sebuah seri game horror yang dipuja-puji, sukses dari sisi penjualan, dan berakhir menjadi game yang terus diantisipasi kelanjutannya. Sebuah mimpi yang akhirnya dipenuhi Red Barrels lewat seri kedua yang akan meluncur tahun depan – Outlast 2.
Lewat serangkaian screenshot dan trailer perdana yang dirilis ke pasaran, Oulast 2 terlihat memenuhi hampir semua hal yang Anda antisipasi darinya. Kualitas visual yang mengalami peningkatan dibalut dengan atmosfer, cerita, karakter, dan “musuh” baru untuk diwaspadai. Tak seperti seri pertama dimana sang karakter utama terperangkap dalam ruangan tertutup yang dihiasi koridor penuh koridor, Red Barrels sepertinya ingin Anda menghirup sedikit bau darah di luar ruangan dengan seri kedua ini. Semuanya ditemani dengan cahaya bulan yang sedikit redup dan kegelapan mencekam yang natural di atasnya. Sejauh ini semua formula tersebut berhasil untuk membuat bulu kuduk kami merinding.
Kini tak lagi sekedar hanya bisa dicicipi lewat screenshot atau trailer, Red Barrels akhirnya merilis demo singkat Oulast 2 untuk semua platform rilis yang ada – Playstation 4, Xbox One, dan PC. Ia mungkin membawa konten yang minim, namun ia terhitung berhasil merepresentasikan daya tarik seperti apa yang ingin dijual Red Barrels dengannya.
Lantas, seperti apa impresi pertama seperti apa yang ditawarkan oleh demo yang satu ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah mimpi terburuk? Review impresi kami ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.
Outlast yang Anda Kenal
Di seri kedua ini, setidaknya dari sedikit sinopsis cerita yang dilemparkan di layar pertama Anda mencicipi sang demo, Anda kembali akan berperan sebagai seorang wartawan bernama Blake Langermann. Pekerjaannya sebagai seorang wartawan investigatif membawanya ke sebuah region yang asing untuk menyelidiki kasus terbunuhnya seorang ibu muda yang tengah hamil bernama Jane Doe. Dari cerita seperti ini saja, Anda bisa memprediksi seri sekuel seperti apa yang akan Anda dapatkan.
Dari demo singkat yang bisa Anda selesaikan hanya dalam waktu 20 menit saja ini, Anda akan bertemu dengan mekanik gameplay yang serupa dengan Outlast sebelumnya, tanpa ada perubahan yang mendasar sama sekali. Anda masih akan dibekali dengan sebuah kamera yang memuat mode Night Vision di dalamnya untuk melihat lebih baik di kegelapan dengan kemampuan zoom yang cukup luar biasa untuk memerhatikan objek di kejauhan. Dan seperti seri pertama pulanya, baterai akan jadi resource paling penting untuk memastikan kamera Anda terus bekerja, apalagi jika Anda secara konsisten menggunakan mode Night Vision yang ada.
Hampir tak ada perubahan mekanik yang berarti, karena karakter utama Anda tetap tidak bisa melawan. Anda tetap hanya bisa berlari, bersembunyi, dan berusaha untuk tak terlihat di depan sumber ancaman yang sepertinya akan berakhir, menjadi makhluk atau manusia apapun di luar Anda sendiri. Anda bisa bersembunyi di beragam tempat untuk mengecoh mereka, dengan mekanik lari untuk bergerak lebih cepat namun butuh waktu istirahat untuk memulihkan stamina yang ada. Familiar? Karena memang demikian adanya. Red Barrels sepertinya mengerti bahwa mereka sudah mengeksekusi hampir semua hal tepat di seri pertama, dan kini hanya perlu menyempurnakannya untuk seri kedua ini. Rasa familiar ini juga akan membuat gamer yang asing untuk langsung terjun ke kedua seri ini nantinya jika mereka merasa penasaran. Sebuah strategi dan pendekatan yang tampaknya akan membuat gamer manapun berkeberatan.
Lebih Mistik?

Salah satu perbedaan yang paling signifikan antara Outlast dengan Oulast 2 ini, setidaknya dari sesi demo yang kami cicipi, adalah tema besar yang diusung. Memang ia hadir dengan kualitas visual yang terlihat lebih baik atau aksi yang juga kini memanfaatkan dunia luar sebagai “arena permainan”, namun perbedaan tema lah yang sepertinya akan menentukan identitas Oulast 2 itu sendiri.


Seperti yang kita tahu, terlepas dari betapa menyeramkannya si seri pertama, Anda berhadapan dengan sebuah skenario yang masih “mungkin” terjadi, setidaknya di awal-awal cerita. Anda terkurang di dalam sebuah rumah sakit jiwa penuh manusia-manusia dengan gangguan psikologis yang bahkan tak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak. Walaupun ada di bagian akhir cerita terdapat sedikit elemen “mistik” yang tak pernah Anda prediksikan sebelumnya, apalagi dengan konspirasi di sana-sini, ia membangun pondasi cerita dari sesuatu yang rasional. Namun Outlast 2 sepertinya tak demikian.




Anda memang terkesan terjebak di dalam sebuah area tempat tinggal para penghuni sekte misterius yang tak hanya segan membakar sebuah salib secara terbalik, tetapi juga melakukan ritual-ritual absurd yang menyeramkan. Namun perlahan namun pasti, untuk sebuah demo singkat sekalipun, Red Barrels tak ragu memperlihatkan konten yang sepertinya membuat atmosfer mistik akan lebih kentara di seri kedua ini. Anda bertemu dengan monster berlidah panjang yang menarik Anda ke dalam sumur dan melemparkan Anda ke sebuah dunia berbeda, atau sebuah monster yang bisa tiba-tiba muncul di hadapan Anda, hingga seorang wanita dengan kapak raksasa yang tak segan untuk membelah selangkangan Anda menjadi dua bagian. Level horror di seri kedua ini tak lagi terlihat sebagai sesuatu yang bisa terjadi di dunia nyata.




Apakah ini akan mempengaruhi kenikmati Anda, pencinta gamer horror? Sebagai seorang gamer yang penakut, demo 20 menit ini berhasil memberikan satu bukti yang jelas – bahwa ini tetaplah sebuah seri Outlast super menyeramkan yang siap untuk membuat Anda menjerit, terlepas dari perbedaan tema yang mungkin ia usung. Kekhawatiran terbesar mungkin akan mengarah pada seperti apa konten cerita yang akan ditawarkan, terutama kemampuan Red Barrels untuk mengkombinasikan tema cult dan makhluk super menyeramkan di ruang yang sama. Apakah yang akan kita hadapi? Sebuah kisah “klasik” soal melahirkan anak setan yang siap untuk menghancurkan dunia? Sebuah cult yang sekedar menyembah dewa-dewi aneh? Atau jangan-jangan, ini perjalanan psikologis dari karakter utama yang mendekati kegilaannya? Apapun itu, potensinya cukup untuk membuat rasa penasaran memuncak.
Jadi, Pantaskah Outlast 2 Diantisipasi?


Dari demo 20 menit ini, meluncur dari mulut seorang gamer yang bahkan tak berani menyelesaikan Outlast pertama, seri kedua ini akan menjadi kandidat salah satu game horror terbaik untuk tahun 2017 mendatang, melawan judul raksasa yang lebih besar seperti Resident Evil 7, misalnya. Red Barrels terlihat sangat mengerti apa yang gamer yang sukai dari seri pertama, tak mengubah hal-hal tersebut secara signifikan, dan kemudian menempelkan dan menyempurnakan ragam elemen lain seperti cerita, visual, suara yang lebih sempurna di atas. Anda masih menemukan tubuh yang dipotong layaknya acar mentimun, sumber ketakutan yang tiba-tiba muncul di wajah Anda, hingga desain dunia dan suara yang seolah membuat Anda terperangkap dalam mimpi buruk orang lain.
Outlast 2 sendiri rencananya akan dirilis pada kuartal pertama tahun 2017 mendatang, namun masih tanpa tanggal rilis pasti, untuk Playstation 4, Xbox One, dan tentu saja – PC. Siapkan popok!
[Sumber jagatplay]
Posted By









Tidak ada komentar: